Dalam rangka peringatan HUT ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, bersama Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur, meluncurkan buku “INDONESIA-TIONGKOK, Siapa Melakukan Apa?” di Kedutaan Besar RI di Beijing. Buku ini disunting oleh Dr. (H.C.) Al Busyra Basnur dan Dr. Taufan Teguh Akbari.
Buku tersebut merupakan hasil sayembara menulis yang diselenggarakan PPIT bersama Kementerian Luar Negeri RI, KBRI Beijing, dan Indonesia-China Partnership Institution (ICPI)–President University pada April–Juni 2026. Mengusung tema “Membangun Hubungan Indonesia-Tiongkok yang Semakin Erat, Kuat, dan Saling Menguntungkan. Siapa Melakukan Apa?”, sayembara ini diikuti oleh 727 peserta dari berbagai latar belakang.
Setelah melalui proses seleksi oleh dewan juri, sebanyak 30 tulisan terbaik dipilih untuk diterbitkan dalam buku tersebut. Para penulis mengangkat beragam perspektif mengenai hubungan Indonesia-Tiongkok, mulai dari sejarah, ekonomi, perdagangan, pendidikan, kebudayaan, teknologi, hingga diplomasi dan kerja sama masa depan.
Dua pemenang juara pertama, Ayu Prawitasari melalui tulisan “Membayangkan Lagi China dari Jawa” dan Sulthan Daffa Alzana melalui “Bertanilah Sampai ke Negeri Cina”, memperoleh kesempatan mengunjungi Beijing bersama pimpinan PPIT. Mereka juga menghadiri upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di KBRI Beijing, bertemu dengan Duta Besar RI, serta mengikuti sejumlah kegiatan dan kunjungan ke berbagai institusi di Beijing.




Memperkuat Diplomasi Antarmasyarakat
Lebih dari sekadar kumpulan tulisan, buku ini menjadi potret pandangan masyarakat Indonesia tentang Tiongkok dan hubungan kedua negara. Keterlibatan mahasiswa, jurnalis, akademisi, profesional, dan masyarakat umum menunjukkan bahwa diplomasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan diplomat, tetapi juga membutuhkan kontribusi berbagai elemen masyarakat.
Melalui interaksi di bidang pendidikan, bisnis, kebudayaan, pariwisata, dan komunitas, masyarakat turut membangun pemahaman serta memperkuat hubungan antarkedua bangsa. Hal ini sejalan dengan konsep people-to-people diplomacy, yaitu diplomasi yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam hubungan internasional.
Peluncuran buku ini juga bertepatan dengan peringatan 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok pada 2026. Judul “Siapa Melakukan Apa?” menjadi ajakan bagi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, organisasi masyarakat, dan generasi muda untuk mengambil peran dalam memperkuat kerja sama bilateral.
Ke depan, buku ini akan dibahas dalam berbagai forum di Indonesia dan Tiongkok serta diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin agar gagasan para penulis Indonesia dapat menjangkau masyarakat Tiongkok. Dengan demikian, buku ini diharapkan menjadi jembatan dialog, memperluas pemahaman bersama, dan mendorong hubungan Indonesia-Tiongkok yang semakin erat, kuat, dan saling menguntungkan.

